Tikungan Pasar Kliwon

Cerpen M.D. Atmaja

Gemiris cukup rapat saat anak lelaki mengkerutkan tubuhnya di atas jalan. Pipi kanan mengencang, tertahan aspal yang tergenang air. Mengalir seperti sungai bersama darah yang menetas dari mulut dan hidungnya. Ia memejamkan mata, serapat gerimis yang tidak juga usai meski anak itu terus berdoa agar hujan berhenti. Mulutnya terbungkam, sedang gigi gemeratak. Menahan dingin dan sakit. Ia memegangi perut dengan dua lengannya yang kurus, erat dia merasakan lambung berikut usus-ususnya pecah. Terlalu perih untuk dia rasakan saat air dingin terus menusuki tubuhnya. Wanto –anak kecil yang terus bertahan menahan sakit dan amarahnya.

“Bahlul!” teriak lelaki besar dan gagah bernama Abah Soleh sambil terus mengumpat bersamaan napasnya yang terengah-engah. Kemarahan seolah telah menyumbat dadanya. Ia menopangkan tubuh ke tiang teras rumah, sambil memandang ke depan. Tikungan di mana anak lelaki masih melingkarkan tubuh di atas aspal. Tubuhnya gemetar menahan kemarahan yang belum habis meski sudah ditumpahkan.

Wanto memandang aspal yang hitam lagi dingin. Kekotoran yang mengair di depannya, mengingatkan akan sampah hidupnya sendiri. Ia merasakan seluruh ototnya mengencang, mual pada perut serta perih pada kulitnya menerima hujan seperti siraman air garam. Ia tetap bertahan untuk tetap sadar, agar dapat berdiri mempertahankan kelelakian. Perlahan dengan susah payah, Wanto berhasil mendorong tubuh dengan tangan kanan menumpu aspal. Dia melihat wajah penduduk yang menatapnya sedih namun tetap beku di bawah genteng. Mereka hanya berdiri memandang dirinya, memandang dengan rasa iba karena hanya memandang itu yang dapat mereka lakukan. Wanto tersenyum kecil, menguatkan diri.

Wanto berdiri dengan sombong untuk mengkukuhkan harga diri. Ia masih lelaki meski sudah dihajar habis-habisan. Menerima setiap hantaman tanpa memiliki kesempatan untuk membela diri atau melawan.  Ia melangkah sambil menepis rasa sakit, dengan susah payah menerobos hujan untuk pulang ke rumah.
Abah Soleh memandang tajam. Sisa-sisa air hujan yang membasahi rambutnya terus menetes, menelusuri wajah lalu bergelayutan pada jenggot tebal lagi panjang. Abah Soleh mengurutnya, mengeringkan jenggot dengan perasan kuat. Ia masih masih marah dan bersiap menunggu kalau nanti Wanto mengadu ke orang tuanya. Abah Soleh tidak takut. Dia kini menyiapkan amarah kalau nanti bapak orang tua Wanto datang.

* * *
Wanto pulang dengan berat. Ia takut kalau sampai orang tuanya tahu dengan apa yang baru saja dia alami. Wanto tidak mau ketahuan. Karenanya saat sampai depan rumah, dia tidak langsung masuk. Berdiri di samping rumah di bawah pohon pisang. Ia menggeleng, tidak ada kesempatan untuk menyembunyikan dirinya. Bapak dan Simboknya, ada di ruang depan. Wanto berpikir sejenak, sambil berteduh ia mencari-cari alasan. Wanto mengangguk, ia akan bilang kalau habis berkelahi dengan temannya sekolah di Pasar Kliwon.  Meski Bapaknya akan marah besar, namun menurut Wanto itu lebih baik daripada mereka tahu kebenarannya.

Berkelahi dengan orang lain lebih aman bagi Bapak dan semua orang di keluarganya, daripada ketahuan habis dipukuli Abah Soleh. Sebab Abah Soleh adalah juragan dan Bapaknya Wanto hanya salah satu orang yang bekerja padanya. Wanto masuk ke menyelinap di hujan untuk masuk ke dalam rumah. Bapaknya sedang minum kopi dan melinting rokok, Simboknya tidak ada di sana namun ada di dapur.

“Jangan hujan-hujanan nanti sakit.” Ucap Bapaknya saat melihat Wanto basah kuyup, dengan akting kedinginan untuk menggantikan rasa sakit.

“Iya, Pak.” sahut Wanto tanpa melihat Bapaknya.

“Mandi lalu makan.”

“Iya, Pak.” Wanto langsung masuk ke kamar, tidak segera mandi seperti yang disuruhkan Bapaknya. Ia menunggu Simboknya keluar dari dapur sebab untuk ke kamar mandi harus melewati dapur dulu. Dan Simbok lebih cermat melihat apa yang Wanto sembunyikan.

“Bapak ngomong sama siapa?” tanya Simbok dan membuat Wanto lekas mengganti baju untuk kemudian langsung membungkus tubuh dengan sarung.

“Wanto hujan-hujanan.”

“Anaknya kemana?”

“Langsung ke kamar. Disuruh mandi mah langsung ke kamar. Cuma iya-iya saja.”

“Le, mandi terus makan.” Ucap Simbok dari luar kamarnya Wanto.

“Nanti, Mbok.” Suara Wanto bergetar, menahan kesedihan dan keinginan untuk mengeluh.

Suara Wanto dapat Simbok terka, kalau anak lanangnya baru memiliki masalah. “Kamu belum makan seharian, to, le?”

“Iya, Mbok, nanti saja.” sahut Wanto dengan suara yang sama.

Simbok pun langsung membuka pintu, punggung Wanto yang berbungkus sarung. Simbok tersenyum lalu duduk di amben di belakang Wanto. Dengan lembut, Simbok berusaha membalikkan tubuh anaknya. Namun tidak seperti biasa yang menurut, Wanto bersikeras untuk terus menghadap tembok dan memberi Simboknya punggung yang membungkuk.

“Ada apa, Le? Apa Simbok tidak lagi bisa diajak cerita.” Tanya Simbok yang tidak lama terdengar napas Wanto yang berat, ingus yang terhirup kasar, namun Wanto masih bersikukuh dan menghadap dinding.

 “Kamu punya keinginan lagi, Le? Kalau Simbok bisa, pasti Simbok usahakan. Tapi ya itu tadi, Simbok Cuma bisa bantu membujuk bapakmu.” Ucap Simbok lagi untuk mendapat perhatian Wanto.

“Tidak, Mbok!” Wanto semakin terserang oleh kesedihan. Selama ini Simboknya selalu berusaha untuk mengerti apa pun yang Wanto inginkan. Tidak sekalipun Wanto merasa dikecewakan, dan karenanya tidak ada apa pun yang dapat Wanto sembunyikan. Tapi masalah ini, Wanto tidak ingin orang tuanya tahu, bahkan oleh Simboknya. Wanto tidak mau Simboknya sedih, bagaimana perasaan seorang simbok yang tahu kalau anaknya dipukuli oleh majikan suaminya.

“Simbok tidak akan bilang bapakmu, kalau kamu bilang.” Ucap Simbok yang masih berusaha membujuk Wanto, “Itu kalau kamu takut sama Bapakmu.”

“Tidak, Mbok.”

“Kalau tidak ya, Simbok jangan Cuma dikasih punggung. Sini biar Simbok lihat anak lanang simbok.” Perlahan, Simbok berusaha membalikkan tubuh Wanto yang kali ini menurut. “Inalillahi,” terkejut melihat wajah Wanto memar, “Kamu kenapa, Le?”

Simbok mengusap wajah Wanto yang babak belur, sedang Wanto tidak menjawab. Anak lelaki itu seoalah kehilangan rasa kelelakiannya saat berhadapan dengan biyungnya sendiri. Wanto justru menangis sambil berusaha mencari cerita untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Tidak! Tetap dia besikukuh, kalau orang tuanya tidak boleh tahu apa yang terjadi sebenarnya. Wanto tidak takut pada Abah Soleh atau berusaha melindungi dari kemarahan orang tuanya, terlebih
Bapaknya. Tapi Wanto ingin melindungi orang tuanya sendiri, dari kekecewaan.

“Siapa yang memukuli kamu, Le?” tanya Simbok menahan sedih sekaligus marah yang terpendam. “Kamu berkelahi? Simbok sudah bilang, lebih baik mengalah, sabar. Jangan mudah terpancing emosi. Apa kamu tidak mendengarkan Simbok, Le?”

“Ngapunten, Mbok. Aku tidak ingat pesan simbok. Tadi berkelahi dengan anak tetangga desa.”

 “Owalah, Le, kok bisa-bisanya kamu membuat Simbok kecewa. Kamu masih anak lanang Simbok bukan?” Simbok pun menangis sambil memeluk Wanto.
Membuat Simbok kecewa, terlintas di pikiran Wanto. Tidak pernah Wanto mendengar ucapan simboknya yang seperti itu. Pengakuan simboknya lebih membuat Wanto sakit daripada pukulan dan tendangan Abah Soleh. Lebih menyakitkan mengetahui telah membuat kecewa orang yang paling Wanto cintai. Wanto menggeleng, ia tidak mau simboknya merasa kehilangan anak lanang. Tapi Wanto juga tidak mau kalau orang tuanya tahu dengan kejadian yang sebenarnya. Itu membuat Wanto masuk ke persimpangan. Mana yang terpenting untuknya saat ini.

Dalam pelukan simboknya, Wanto berpikir. Menimbang untuk mengetahui kadar berat dari dua pilihan itu. Ia tidak mau simboknya kecewa dan juga tidak mau keluarganya mendapat masalah dengan Abah Soleh. Namun Wanto juga sadar, kejadian tadi tidak mungkin dia tutupi untuk waktu yang lama. Apa yang sudah dilakukan Abah Soleh padanya, dilihat banyak orang. Hampir semua orang di pinggir jalan depan rumah Abah Soleh mengetahuinya. Menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana Wanto dibuat K.O oleh Abah Soleh. Dan tidak ada yang membantu Wanto atau sekedar menahan tangan dan kaki Abah Soleh untuk terus menubruki tubuh Wanto.

Wanto memutuskan, rasa hati simboknya lebih penting ketimbang apa pun. “Wanto tidak berkelahi, Mbok.” Ucapnya dengan sedikit ragu dan takut.

“Jangan bohong, Le.”

“Simbok jangan bilang Bapak.” Ucap Wanto dan simboknya mengangguk setuju. “Aku tidak berkelahi, Mbok, tapi dipukuli orang.”

“Kamu salah apa?” tanya Simbok dan Wanto menggeleng.

“Tidak tahu, Mbok.”

“Tidak tahu?” Simbok bingung, bagaimana bisa tidak tahu, “Siapa, Le?”

Wanto berpikir sejenak. Menatap simboknya mencari pijakan untuknya berani menyebut nama. “Tapi Simbok jangan bilang Bapak. Abah Soleh, Mbok. Tadi, waktu aku main becak sama Ismail, tiba-tiba Abah Soleh teriak dari teras rumah. Abah Soleh langsung datang dan memukuli Wanto.” Wanto termenung membayangkan bagaimana Abah Soleh mengamuk. “Abah Soleh tidak bilang apa pun, Mbok, cuma menendang sambil teriak bahlul, anak setan.”

Semakin erat Simbok memeluk Wanto. Air matanya menetes, membayangkan nasib anak malang. Simbok juga menghadapi bagaimana rasa sakitnya orang tua saat tidak mampu membela anaknya. Simbok Wanto marah namun menahan marah untuk dirinya sendiri. “Sabar, Le, itu yang terbaik buat kamu.” Ucap Simbok saat tidak mampu menahan kesedihannya.

“Iya, Mbok!”

“Meski Abah Soleh yang seringkali bilang kalau sabar itu lebih baik, kitalah sekarang yang saatnya harus sabar. Kita terima saja, Le, semoga Gusti Allah menguatkan kita.” Simbok berusaha tidak menangis lagi.

Bapak ada di belakang pintu, mendengar seluruh pembicaraan istri dan anaknya. Terbayang saat Wanto menghadapi Abah Soleh. Tubuh anaknya yang kecil dipaksa menerima srudukan tubuh Abah Sholeh –majikannya yang bertubuh besar. Ia sedih melihat anaknya menghadapi penderitaan yang berat dan lagi sebagai bapak, tidak memiliki keberanian untuk membela anak. Abah Soleh baginya tidak sekedar majikan, namun juga guru ngaji yang terus menerus mengisi hidupnya dengan petuah kebaikan hidup. Meski terkadang, ia sering menemukan ketidak-cocokan antara apa yang Abah Soleh ucapkan dengan perbuatan.

Seperti kejadian yang menimpa Wanto. Ia tahu Wanto pasti memiliki kesalahan meski pun itu kecil. Salah tetap salah. Ia menjadi ingat bagaimana Abah Soleh sering bilang kalau menjadi manusia utama adalah manusia yang sabar dan berani dengan dada terbuka memaafkan kesalahan orang lain. Dengan memaafkan orang lain, semoga saja Tuhan juga akan memaafkan kesalahan manusia itu kelak di hari perhitungan. Namun itu sebatas kata-kata Abah Soleh yang nyatanya tidak memaafkan kesalahan Wanto. Bapaknya Wanto terdiam.

* * *

 Menerobos hujan hanya dengan pelepah pisang, bapaknya Wanto menuju ke rumah Abah Soleh. Di depan ada tikungan terakhir jalan di Pasar Kliwon. Sebelah tikungan itu adalah rumah milik Abah Soleh, berikut toko-toko yang berderet sepanjang jalan –juga milik Abah Soleh. Ia ingin mencari penjelasan sebab musabab anaknya harus menerima ajaran. Ia kini tidak perduli, kemarahan Abah Soleh akan membuatnya kehilangan pekerjaan bersebab Abab Soleh menarik becak yang bapaknya Wanto operasikan. Ia pergi hanya untuk meminta penjelasan bukan untuk alasan lain.

Abah Soleh masih berada di teras. Ia memang sedang menunggu orang tua Wanto yang dia perkirakan pasti datang. Sambi mengusap jenggotnya yang mulai kering, Abah Soleh sudah menantang bapaknya Wanto yang baru memasuki halaman. Tubuh yang besar dengan jenggot lebat dari pelipis sampai janggut sedikit menggetarkan hati. keberanian bapaknya Wanto agak memudar namun tetap melangkah demi anak lanang istrinya.

“Assalamu’alaikum, Bah!” ucapnya sebelum naik ke teras.

“Wa’alaikum salam!” sahut Abah Soleh dingin sambil menjulurkan tangannya untuk mendapat cium penghormatan dari babu yang sekaligus santrinya.

“Saya, sowan ke sini, Bah untuk,”

“Aku tahu!” potong Abah Soleh, “Kamu mau tanya kenapa anakmu aku hajar?” ucap Abah Soleh dengan nada penuh wibawa yang menyulut kemarahan bapaknya Wanto yang berusaha sabar sambil menatap tikungan Pasar Kliwon di sana tempat anaknya mendapat siksaan.

“Benar, Bah. Kalau Wanto salah, saya mohon maaf.”

“Anakmu salah. Sudah aku bilang, becak jangan dijadikan mainan. Tapi dasar anakmu itu, bahlul, kelakuannya seperti setan, tidak mau mendengar. Malah ngajak Mail hujan-hujanan mainan becak. Becakku bukan buat mainan. Kalau nanti rusak bagaimana? Kalau Ismail sampai sakit bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?”

Bapaknya Wanto menunduk. Dia tahu dirinya sedang dihina. “Tapi apa benar langsung dipukul, Bah?”

“Kamu mengajari aku?”

“Tidak, Bah, tapi,”

“Sudah! Kalau kamu tidak terima sana lapor polisi. Besok kamu cari becak lain saja. Tidak perlu bawa becakku lagi. Banyak yang mau bawa selain kamu.”

Benar, ia kehilangan pekerjaannya. Bapaknya Wanto undur diri dengan sopan. Dia tidak masalah kehilangan pekerjaan, dia juga tidak mau menuntut Abah Soleh. Karena Abah Soleh tidak sekedar majikan, tapi juga guru yang ditunggu sawab berkahnya. Bapaknya Wanto masuk ke dalam hujan, dia melewati tikungan Pasar Kliwon dan menuju pulang. Di tengah jalan, ketemu Ismail, anak mantan majikannya. Ismail minta maaf, kalau sebenarnya dirinya yang salah. Ismail yang mengajak Wanto bermain becak-becakan.

Bapaknya Wanto ingat inti pengajian beberapa waktu lalu. Muslim itu memaafkan kesalahan sesama muslim dan diantara muslim saling berkasih sayang. Karenanya dia memaafkan Ismail dengan ringan. Dia juga meminta doa pada Ismail semoga Wanto lekas sembuh. Bapaknya Wanto berlalu dengan membawa senyuman, menghadapi hidupnya sebagai buruh yang tercampakkan.

Banjarnegara, 10 November 2013
*) [Program Parallel Events Bienalle Jogja XII dengan tema “Arabian Pasar Kliwon” project Kelompok seni Deka-exi(s) yang di selenggarakan di Situs Kandang Menjangan Krapyak,Yogyakarta pada tanggal 17 – 30 November 2013.]

Iklan

Penyair Berlidah Setan

Cerpen M.D. Atmaja

“Begitulah tipuan lelaki,” ucap Dhimas Gathuk sambil meletakkan sebendel kertas ke atas meja. Dia memandangku penuh curiga, menelisik jauh ke relung-reung terdalam hati.

“Siapa yang menipu, Dhi?” tanyaku sedih sebab tidak tahu, untuk apa pandangan Dhimas Gathuk, sedang aku tidak merasa menipu sesiapa pun.

“Berita,”

“Berita penipuan sudah biasa.” Sahutku cepat sebelum Dhimas Gathuk menyelesaikan omongannya.

Dhimas Gathuk diam, dia menatapku seksama, aku mungkin dia anggap buku yang mesti dibaca dengan cermat. “Kamu pernah jadi penyair, Ja?” pertanyaan aneh itu tiba-tiba melesat.

“Belum pernah berhasil, Dhi. Kenapa?”

Dhimas Gathuk menggeleng, “Tapi sudah berhasil nggombali perempuan kan?”

Kini aku yang diam. Dhimas Gathuk aku pandang baik-baik. Dia memang seperti buku, hanya dengan sampul yang seringkali berubah dan tidak menunjukkan bagaimana isi –pendalaman buku itu. Penyair –aku belum sempat berhasil menjadi penyair meski sudah berkali-kali menulis puisi dan membacakannya. Tapi soal ngegombal itu, ada hal lain yang tidak mengenakkan. Puisiku tidak berestetika rayuan kosong –atau terlebih lagi tipuan untuk berubah sesuai kondisi –layaknya bunglon yang meloncat dari dahan satu ke dahan lainnya. Estetika seni yang selama ini coba aku bangun adalah estetika kesadaran –menjadikan diriku sadar pada kehidupan, lalu untuk eling dan waspada.

Eling itu ingat, waspada ya waspada, sebagaimana pesan seorang Raden Ngabehi dari keraton Surakarta itu. Dan Gombal –apalagi kalau gombal-mukio, tidak mengajak pada estetika kesadaran. Estetika puisi gombalisme mengarah pada kesesatan –dan kesesatan lebih dekat pada tindakan setan. Aku tidak mau menjadi setan, meski aku ini manusia pendosa. Setidaknya, pendosa untuk dirinya sendiri dan tidak merugikan orang lain sebab yang merugikan orang lain itu –bukan lagi kawannya setan- tapi setan itu sendiri. Seperti koruptor yang mewabah di negeri tercinta ini.

“Kok diam, Ja?”

“Aku bingung, Dhi.”

“Lho tidak usah bingung, yang bingung itu tidak jujur.”

Aku mengangguk, “Masalahnya, aku belum berhasil jadi penyair, apalagi nggombal itu tadi, Dhi. Jadi mesti jawab apa? Lagian namanya gombal kok rasanya tidak pantes kalau dekat sama penyair.”

“Kenapa?”

“Penyair itu manusia yang mesti mensucikan jiwa, khatarsisme yang harus selalu dia tegakkan. Kebenaran dan kemanusiaan –terlebih lagi, Dhi, ketuhanan.”

“Tidak pantas kalau penyair berbuat yang tidak-tidak, apalagi melanggar hukum?”

“Hukumnya siapa dulu, Dhi!”

“Ada berapa hukum?” sahutnya cepat dan aku tidak langsung menjawab, malas mendebatkan hukum siapa dan hukum siapa, dan kelihatannya Dhimas Gathuk membaca kemalasanku ini. “Oke, hukum pemerintah.”

“Aku tidak paham, Dhi. Yang jelas, penyair tidak boleh menginjak-injak kebenaran, tidak boleh berlaku angkara dan merusak, terlebih lagi,”

“Merusak pagar-ayu?” sahut Dhimas Gathuk cepat, seperti halnya tadi.

“Tidak boleh merusak pagar ayu yang bukan haknya.” Sahutku dan Dhimas Gathuk mengangguk seolah memahami sesuatu.

“Kalau ada yang sampai merusak pager ayu itu, memperkosa, berarti dia bukan penyair?”

“Bagiku? Belum! Tidak layak menjadi penyair, meski puisinya sebagus lembayung senja, atau pemilihan kata-katanya semanis gula. Dia tidak layak, dia Cuma sebatas manusia dengan lidah setan yang menggunakan kata-katanya sebagai racun untuk orang lain.”

“Ya kali ini, aku sependat dengamu, Ja!”

“Memangnya ada apa, Dhi?”

Dhimas Gathuk tersenyum lucu, dia melemparkan kertas koran ke arahku. “Ada penyair yang memperkosa mahasiswi.” Dhimas Gathuk menegakkan punggungnya, “Memperkosa, cobak kamu pikir, Ja, Mem-Per-Ko-Sa. Namanya Perkosa itu memaksa, Ja. Ah, aneh-aneh saja.”

 Aku terpaksa menggaruk kepala. Berita itu aku baca perlahan-lahan, yang intinya seperti ini: Penyair kondang –memakai istilah kondang, telah memperkosa mahasiswi universitas terkemuka. Mahasiswi ini hamil 7 bulan dan baru berani melapor ketika si penyair dengan inisial SS [baca: Siji Srengenge] menggagahinya sampai hamil tanpa ada pertanggung-jawaban. Menurut dari pengakuan Kuasa Hukum korban, modus pemerkosaan penyair Siji [baca: SS] dilakukan di kamar kos-an saat korban menerima penawaran pemerkosa untuk membantu korban menyelesaikan skripsi.

Langit di barat memerah saat matahari merangkak menuju ke rahim bumi. Aku tidak tahu, penyair ini –penyair kondang, telah berbuat sedemikian nistanya dengan memanfaatkan studi sastra –budaya untuk memperdaya korban. Puisinya yang selama ini berbicara kemanusiaan ternyata tidak mampu mengajari hatinya sendiri untuk lebih menghargani kemanusiaan. Dan ternyata mulut penyair ini tidak lebih seperti mulut sampah koruptor yang berjanji memberantas korupsi sambil diam-diam merampok –bicara kemanusiaan namun menghewankan orang lain.

“Dia bukan penyair sejati, Dhi, dia –manusia SS ini hanya sekedar mengaku-aku Penyair dan sayangnya dia juga ber-Lidah Setan. Semoga Allah membakarnya dengan siksaan yang dua-tiga kali lipat ketimbang pemerkosa yang bukan penyair.”

“Tidak hanya lidahnya, kelaminnya mungkin juga kelamin setan, Ja!”

“Semoga kelaminnya dibakar dengan panas ratusan kali lipat.”

Banjarnegara, 06 Desember 2013

Politik, Kebencian atau Trauma Masa Lampau?

Politik, Kebencian atau Trauma Masa Lampau?

Jurnal Biro Khusus – Syarekat Sastra Indonesia (BK-SSI)

Bulan Juli 2011

Bahaya Laten, dalam paradigma masyarakat kita akan mengarah pada suatu nuansa kekejaman paham kiri yang disebut dengan nama Komunis yang pernah berjaya di negeri ini di bawah naungan panji Partai Komunis Indonesia. Masalah ini hanyalah menyoal isu yang sudah sangat tua. Karena teramat tuanya, Bahaya Laten begitu rentan di masa-masa yang penuh ketidak-pastian dimana terjadi berbagai ketimpangan sosial, pelanggaran hukum serta kegoncangan dalam sistem pemerintahan. Orang dalam suatu golongan tertentu dapat dengan mudah memanfaatkan isu ini demi terlangsungkannya tujuan pribadi. Membakar masyarakat suatu daerah dengan membangkitkan rasa takut, benci, pun trauma atas Komunisme di masa silam. Baca lebih lanjut

Owhh, Orgy Onani atas Gugatan Tanggung Jawab Kepenyairan yang Semakin Menjadi

Surat Terbuka M.D. Atmaja untuk Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring

Akhirnya, muncul juga karakter terbarumu yang sebenarnya sudah lama sekali terbaca. Sudah saya membacai tanpa “jeli” seluruh Orgy saudara di wall facebook yang melulu seperti pesta pora (orgy) onani dan banyak sepasukan mendukungmu. Berkentut ria, atas tulisan-tulisanmu yang mengharu, membiru sampai merah hitam. Saya anggap itu sebagai jawaban atas surat terbuka sebelumnya.

Satu persatu mulai saya pahami. Ternyata, mengenal pribadi yang haus pujian itu lebih susah, sebab tidak bisa menerima kritik. Hal yang paling saya sesalkan adalah dari perbincangan pribadi, yang sebenarnya kalau tidak ada hubungan personal, sungguh malas saya mengomentari dan memberikan saran. Dari banyak pihak yang sudah saudara Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring mintai pendapat, ternyata hanya seorang-secuil M.D. Atmaja yang mengatakan kalau tulisan Penulis KPM ini tidak sistematis. Tidak mengandungi pola pikir yang jelas sampai berhadapan dengan “roh-roh” yang saudara mintai bantuan.

Dalam surat yang kedua ini, ada beberapa pokok penting yang ingin saya sampaikan. Kalau ada yang kesalahan, mohon dicermati ke dalam diri saudara sendiri, jangan melulu mempersalahkan orang lain seperti cerita perjalanan persahabatan saudara selama ini dengan beberapa kawan yang saling membentur.

Jadi, begini kawan Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan Penulis Kitab Para Malaikat si Keris Empu Gandring juga Pemilik Pustaka Pujangga, yang baik:

PERTAMA: soal pertanggung jawaban penyair SCB. Beliau menulis seperti ini: “Penyair tidak bisa dimintai pertanggung jawaban atas ciptaannya” itu terbaca seperti ini saudara Nurel Javissyarqi yang beranak buku, laptop kopi dan rokok, bahwa penyair tidak bisa bukan tidak mau bertanggung jawab. Itu, tolong bahasanya dibaca lagi dengan kemampuanmu yang seabrek itu, pakai roh juga boleh, pakai mantra – tidak usah malu, pakai apa pun terserah. Lalu, saudara Nurel Javissyarqi menuduhnya tidak bertanggung jawab, pertanyaannya apa pernah saudara meminta langsung pertanggung jawabannya?

KEDUA, Totalitas? Di sini sebenarnya saya ingin tertawa. Saudara terlihat jelas ketidak-sistematisannya, bukan totalitas, tapi rancu bak anak kecil yang mabuk kehilangan tali busar, lalu teriak-teriak, “pusarku di mana? Pusarku di mana?” perpusian Mantra adalah suatu bentuk estetik puisi yang dikibarkan SCB sebagai karakter karya ciptaannya. Tidak ada sangkut pautnya dengan pertanggung jawaban itu, sah-sah saja mau berpuisi mantra atau ber-orgy onani seperti, ah, jangan menghina.

Aspek estetik ini seperti halnya saudara sendiri yang tidak mau diatur oleh ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apa di perpustakaan besarmu tidak ada KBBI, itu tanya seorang kawan –kawanmu sendiri..? Oh, iya ini totalitas Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring. Totalitas itu baik. Total tidak sistematis, lari menabrak dinding gelap di kamar gelap.

KETIGA, lho, lho kok justru analisis kejiwaan dan filosofi dikembalikan ke saya? Jelas, ini pemutar balikan yang ternyata menjauhkan diri saudara dari keinginan untuk mengenal secara lebih jauh. Ternyata, tidak mau bersinggungan dengan cermin yang ada di dalam diri. Atau sebenarnya tidak mampu? Sudah menyerahkah? Atau tidak menemu? Hilang ketika engkau berada di “alam gelap”?

KEEMPAT, masalah terpukaunya M.D. Atmaja pada Kitab Para Malaikat. Ah, itu skematisasi yang menempatkan diri untuk terlebih dahulu kagum sebagai pijakan agar saya mampu memahami dalam proses penulisan. Lantas, kenapa juga saya harus menulis dan berusaha melahirkan karya dari KPM yang super rumit dan tanpa alur itu –maksud saya tidak sistematis? Benar ingin tahu alasannya? Tidak lebih dan tidak kurang, yaitu hanyalah sebagai ucapan terima kasihku karena sudah membawa sampai Jawa Timur bertemu dengan Fahrudin Nasrullah, Sabrank Suparno, Halim HD dsb.

Sebodoh-bodohnya saya yang sekelas bahasa iklan ini –bukankah Nurel Javissyarqi juga pernah diiklankan?- masih sempat mengucap terima kasih. Cara menghargai orang lain, menghargai seorang kawan. Lha, bagaimana dengan Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring sendiri? Justru, kritik dan saran yang pernah saya berikan sebagai rasa sayang, telah saudara jadikan bahan dalam menghina. Seperti inikah saudara menghargai kawan? Seperti tersebutkah kelakuan dan pribadi Pengelana seperti anda? Pujanggakah? Pantas.

Hebat, hebat benar. Super jenius si penulis Kitab Para Malaikat ini.

Sekarang marilah kita ambil KPM lalu kita bacai baik-baik seluruhnya. Di sana berbicara apa? Owh, jangan-jangan tidak berbicara apa-apa, kecuali dipotong-potong jadi serpihan kecil. Pun di sana ternyata kita tidak menemukan alur, ini cerita apa? Saat saya menganalisis KPM, sekarang coba dipikir, itu pikiran dari KPM atau pikiran dari analisatornya?

Ah, Orgy, orgy, M.D. Atmaja terpukau pesona KPM sampai hendak muntah.

Sekarang KELIMA, pertanggung jawaban pada KPM. Cukup satu judul, “Membuka Raga Padmi” sudahkah? Padahal sudah aku terjemahkan untukmu, yang aku yakin kamu sendiri tidak memahami, saudara Nurel Javissyarqi.

KEENAM, Penelitian KPM yang masih saudara tanyakan. Seharusnya, diakhir Maret 2011 seluruh penulisannya sudah jadi. Namun dipertengahannya saya terpaksa menghentikan dengan alasan:

Pertama, saudara yang selalu totalitas terlalu mendekte saya dalam kerja pemaknaan. Tidak boleh seperti ini, seperti itu, dan harus sesuai dengan apa yang ada di pikiran saudara. Saya pikir, anda tidak menghargai hak saya sebagai interpretator tanda. Toh, yang perlu saudara Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring ingat, saya bukan penterjemah alam pikiran saudara yang dari alam gelap.

Kedua, ucapan saudara yang mengatakan kalau kinerja analisis yang saya lakukan justru “ngelek-eleki” atau membuat buruk karya saudara yang bertitelkan Kitab Para Malaikat –kitab apa? Yang jelek itu kajiannya atau karya “yang belum menjadi naskah penting”? Hem, begitu ucap seorang kritikus sastra yang tinggal di Jakarta. Naskah itu tidak akan menjadi naskah penting kalau tidak terbaca sama sekali, pun karena memang tercipta untuk saudara baca sendiri.

Ketiga, untuk ini nanti saya sampaikan kalau kebetulan ketemu. (kalau kebetulan masih mau bertemu dengan sastrawan berbahasa iklan yang sering saudara bawakan rokok –bukankah sogokan iklan?)

Keempat, adalah totalitas penghentian seperti yang telah disarankan dalam buku terbaru bertitel, hehehe… orgy orgy.

Saudara Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan yang baik, saya sudah cukup mempertahankan kediaman. Akhirnya menuliskan ini. Kalau masih boleh menyarankan, hentikanlah orgy mu ini. Tapi mungkin, orang sekaliber Nurel Javissyarqi beranak buku, laptop, kopi dan rokok tidak mempan jikalau mendapat kritik saran sebab dia yang terhebat di dalam pikirannya. Inilah, sok yang ternyata masih takut pada rasa sakit, keberpihakan, dan tentu saja, kritikus sastra. Lho, kok seperti Enjakulasi terlalu dini, seperti yang pernah dikau sampaikan padaku, yang menantang para kritikus. Ho ho ho du du du,, orgy,,, orgy,,,

Apakah dari bumi yang kamu pijak, tidak ada kawanmu yang lain memberimu kritik? Cobalah tanya mereka, suruh jujur mereka, atau dirimu lebih senang dengan pujian ketimbang kritik? Oh, orgy onani.

Sekian kawan, surat terakhirku. Ini juga tulisanku yang terakhir menyoal dirimu. Dan M.D. Atmaja yang kau sebut sekelas iklan, akan terakhir kali mengiklankan dirimu. Hem, iklan yang aku gubah, ho ho ho ho du du du…

Nurel Javissyarqi (bukan nama yang sebenarnya) menulis Kitab Para Malaikat (bukan kitab yang sebenarnya) seorang Pengelana dari Lamongan (bukan pengelana yang sebenarnya), telah menerbitkan buku baru (bukan buku yang sebenarnya) berjudul Menggugat tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (bukan gugatan yang sebenarnya) menyoal tanggung jawab penyair (bukan tanggung jawab yang sebenarnya), semoga karyamu tercatat di sejarah sastra (tentu bukan sejarah yang sebenarnya) karena kini kau pandai memainkan politik (bukan juga politik sebenarnya) agar orang-orang mempertimbangkan karyamu (bukan karya sebenarnya).

Oh iya, kawan, aku masih mengantongi satu saran. Ketimbang dirimu ber-orgy seperti ini, lebih baik keluarlah dari sungai untuk membuat arusmu sendiri, seperti yang dilakukan penyair SCB yang kamu hujat itu. beliau berhasil menjadi arus, karena kebaikan Tuhan yang menurut beliau bermimpi, dan menurutmu yang tak paham Ibnu Arabi. Apa harus faham dengan Ibnu Arabi untuk menjadi arus? Ah, itu kan pikiran gelap dari “alam gelap” mu saja, kawan Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring Pemilik Penerbit Pustaka Pujangga. Karena keberhasilan SCB dalam membuat arus estetika puisi mantra, jangan beriri hati berselimut totalitas. Segeralah basuh dirimu, kawan Pengelana Dari Lamongan, untuk segera bersuci dan bercermin diri. Tapi jangan di alam gelap, karena di sana dikau hanya akan kehilangan dirimu berikut tali pusarmu.

Kawan, sebenarnya terlalu sayang aku pada dirimu sampai dua surat ini aku sebarkan ke semua orang. Biar kawan-kawanmu yang selama ini memuji, berani untuk mengkritik karena kritik itu penjaga hati dari kesombongan. Atau, dirimu sudah dikuasi birahi syahwat haus akan pujian dan matamu ikut gelap memandang dunia di sekitarmu? Ah, sudahlah kawan, jangan terus ber-orgy (pesta pora) apalagi kalau itu hanya orgy onani pikiran yang justru mengabarkan bagaimana Nurel Javissyarqi sebenarnya.

Kawan, jangan sampai ketidak-mampuanmu mencipta arus membuatmu letih dan buta sampai menelan pil pahit mantra yang tidak kamu pahami. Lantas, engkau juga menggunakan catatan dari Harimau Sumatra itu. Dikau ingin ikut menolak mantra? Lantas apa gunanya semboyan (mantra) yang kau sematkan di penerbitanmu? Bahwa “buku bukan sekedar menyapa tapi juga sarana berdialog dengan dunia”? Ini juga kamu kritiki, kawan Pengelana Dari Lamongan? Ah, aku masih mencium bau orgy onani di sini. Kental, yang kemudian mak crut, selesai dikeringkan cuaca.

Terlalu banyak yang ingin aku ungkapkan, kawan penulis Kitab Para Malaikat, tapi ada waktu dan rasa yang membatasi. Rasanya ingin aku temui beliau si SCB tapi itu tidak mungkin. Ingin aku ajak minum kopi kothok, biar aku yang traktir dengan uang 3000 sisa beli rokok, dan hanya untuk tertawa, menertawakan orgymu. Dan di sana sambil berdoa, “Semoga Tuhan Semesta Alam menerangi duniamu yang berada di alam gelap. Amin.

Saudara Nurel, ini kata-kata terakhir yang menunjukan di mana posisiku berdiri bagimu: LEBIH BAIK MEMILIKI SERIBU MUSUH YANG SETIAP HARI MENYERANG, KETIMBANG MEMILIKI SATU KAWAN YANG MENUSUK DARI BELAKANG. Pernah kita berkawan, berbagi namun sebelum itu kita jauh. Selamat berkarya semoga, salah satu kritikus yang pernah kau pandangi menyempatkan waktu untuk trenyuh dengan KPM milikmu, sehingga tercatatlah dikau di sejarah sastra.Selamat berkarya sampai membelah diri untuk menjadi abadi.

Mantan kawan lamamu, M.D. Atmaja dan kini kau jadi orang asing bagiku.

StudioSDS – Bantul, 21 Mei 2011

Orgy Onani atas Gugatan Tanggung Jawab Kepenyairan

Surat Terbuka M.D. Atmaja untuk Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan

Sebelum memulai, perkenankanlah untuk menghaturkan beribu maaf yang bergelombang tinggi seperti tsunami untuk menghapus dosa yang mungkin tercipta dan berserak di atas dataran tubuh. Surat terbuka ini tidak bermaksud apa pun, selain membela diri, bukankah pembelaan diri yang tertindas adalah jihad yang diharuskan. Sebab, perlawanan atas penindasan pola pikir itu sebagai awal dari jati diri manusia yang masih memiliki harga diri. Berangkat dari rasa sayang dan cinta, kini saya pun berlenggang menghadapi kawan sendiri, Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan Penulis Kitab Para Malaikat sekaligus Pemilik Pustaka Pujangga.

Lahirnya surat ini tidak lantas menjadikan saya sebagai pendukung Sutardji Calzoum Bachri, penyair yang menurutmu tidak bertanggung jawab. Namun sebatas catatan kecil untuk sikap yang sudah membawa diskusi pribadi ke tengah publik. Memang benar, saya mengatakan kalau tulisan saudara yang berjudul “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutarji Calzoum Bachri” tidaklah sistematis. Tentu itu bisa dijelaskan, dengan berbagai realitas yang mungkin tidak tersadari, sebab saudara Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan juga si Keris Empu Gandring baru saja “dari alam gelap” (MTKSCB, 2011: 37).

Saya sungguh tidak mengerti, tidak menyangka kalau perbincangan pribadi itu menjadi bahan untuk ber-orgy di tengah medan yang saya kira belum saudara pahami. Ada beberapa kejanggalan dalam penulisan pengantar yang saudara sebut dengan “Mulanya” sebab di sana komentar itu tidak penuh, memplintir dan mencari sesuatu yang bisa menjunjung tinggi nama Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring. Satu halaman lebih sedikit (halaman 12 dan 13) saudara gunakan untuk beronani, memanjakan diri berteman kenikmatan dan segumpal nafsu birani yang sungguh tidak terbendung. Benarkah bisa mengudar diriku dari “kejiwaan, filosofinya, dan terserah?” (MTKSCB, 2011: 13). Ah, masak iya sementara novelku saya belum pernah kamu baca. Seringkas itu, dengan bahasa semudah itu namun masih saudara mengatakan ketidak-mengertian?

Coba telisik kata-kata ini: Ada cermin di belakang punggungmu, ada semut di depan hidungmu, ada kotoran di seberang lautan yang kau bidik dalam syahwat pujian. Saranku, berbaliklah, temukan diri pahami, kemudian berterima kasihlah.

Sudahkah bisa menemukan kejiwaan dan filosofinya?

Saudara Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring yang terhormat, tadi saya mengatakan soal ketidak-sistematisan penulisan buku itu, mungkin juga menandakan ketidak-sistemasian dalam berpikir, kerancuan berpikir.

PERTAMA, apa yang sebenarnya saudara tulis dalam buku terbaru itu? Apakah benar-benar menggugat tanggung jawab kepenyarian SCB? Lantas kenapa menjadi analisis puisi mantra? Apakah pengetahuan yang saudara miliki “dari referensi olah rasa dan daya lain yang terkandung dalam diri, pula perpustakaan pribadi” (MTKSCB, 2011: 13) tidak bisa menemukan bahwa mantra yang saudara jamah sebagai bagian dari estetika puisi? Kalau hanya ingin menggugat tanggung jawab yang SCB ketengahkan dalam “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair” maka berkutatlah di sana saja. Tidak perlu meloncat-loncat dari dahan ke dahan lain. Apakah ini “loncatan pikiran” itu yang menandakan ketidak sistematisan dalam berpikir?

KEDUA, menyangkut pendeskripsian yang menurut saya tidak terarah. Berputar-putar seperti gasing dengan istilah-istilah yang luar biasa rumitnya. Apakah hidupmu hanya untuk memperjuangkan istilah itu, Saudara Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring? Membicarakan masalah bahasa mau tidak mau membicarakan masalah komunikasi. Bukankah komunikasi yang baik adalah komunikasi yang dimengerti semua orang? Atau jangan-jangan, buku itu saudara Nurel Javissyarqi Pengelana dari Lamongan buat, khusus untuk diri saudara sendiri, sehingga, terserah orang mau memahami atau tidak.

KETIGA, Metodologi penulisan. Saudara sudah memasuki wilayah kritik sastra dan dalam dataran ini dibutuhkan adanya metodologi penulisan, baik untuk menulis maupun untuk membaca (analisis) bahan.

KEEMPAT, Posisi saudara sebenarnya dimana? Berusaha mematahkan perpuisian mantra dan ingin menggantikan dengan Kitab Para Malaikat (2007) milikmu itu? Setelah kau sebut sebagai sumber bandingan atas kebenaran yang belum teruji. Ah, ini seperti penjual di pasar yang mengatakan kalau penjual ikan di samping jelek, yang terbaik hanya ikan yang dijual sendiri. Ah, lagi-lagi memasuki dunia politik sastra. Apakah ini, politik sastra tujuan Saudara Nurel Javissyarqi Penulis Kitab Para Malaikat?

 Banyak hal yang ingin sekali saya utarakan di sini. Namun waktu membatasi diri untuk menghujat orang lain. Sedikit merenung, sedikit belajar, sedikit membatasi diri adalah yang saya kira terbaik untuk diri. Saya tidak memiliki guru yang bisa saya sebut-sebut seperti saudara Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring.

Membicarakan masalah mantranya SCB hampir sama dengan membicarakan KPM punya saudara Nurel Javisyarqi. Seorang kritikus sastra akan lebih memandang keseluruhannya sebagai estetika puisi, suatu bentuk yang menjadi kekhasan bagi sastrawan tersebut. Apakah salah ketika bersemboyan: ini mantra, ini kitab, atau ini hanya orgy onani?

Saya hanya bisa tersenyum kasihan, ketika saudara sampai meminta bantuan roh-roh, segitunya untuk membuka tabir misteri perpusian mantra SCB. Semisal saya sendiri tidak perlu meminta bantuan roh, hanya cukup bercakap dengan Kakang Gathak dan Dhimas Gathuk sambil menikmati kopi dan rokok Klembak Menyan. Akan saya terjemahkan dari struktur sampai bunyi dengan lebih jelas, ketimbang apa yang sudah saudara keluarkan. Pun, bersama dengan Kakang Gathak dan Dhimas Gathuk, saya juga bisa membuat Kitab Para Malaikat yang saudara Nurel Javissyarqi banggakan, menjadi remah-remah kecil untuk di sapu dan dilempar ke tong sampah.

Pahamilah surat terbuka ini, kawan. Dan coba simaklah Kitab Para Malaikat, sebab salah satu tanggung jawab penyair adalah melakukan apa yang sudah dikatakan melalui karyanya. Apakah seluruh kebijaksanaan di Kitab Para Malaikat sudah saudara Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring pahami? Kalau sudah, tentu kebijaksanaan itu akan nampak dalam perilaku. Dan kalau ternyata belum, maka saudara bukanlah penyair yang bertanggung jawab. Untuk mengakhirinya, saya mengucapkan terima kasih. Saya juga ingin berpesan, silahkan saudara Nurel Javissyarqi Penulis Kitab Para Malaikat memahami karya sendiri, terlebih Kitab Para Malaikat. Selamat siang, selamat hari Kebangkitan Nasional dan selamat meloncat-loncat dalam pikiran.

StudioSDS – Bantul, 20 Mei 2011

Menjadi Marxian Sejati, Menjadi Sejatinya Akar Rumput

Catatan M.D. Atmaja

Ini adalah sebuah kenangan atas hebatnya perhelatan pemikiran kiri di negara yang pernah membantai habis manusia-manusia berpaham merah gerakan dibawah naungan dewa komunis. Sistem pemerintahan yang diyakini dapat membawa kebaikan universal bagi manusia lewat dogma “sama rata sama rasa” yang menurut saya tidak hanya mengarah pada nilai ekonomi belaka. Bagi saya, “sama rata sama rasa” lebih pada nilai untuk saling berbagi hidup, saling berdampingan untuk mengisi setiap kekosongan, berlaku dalam dataran manusia sosial yang saling memperdulikan.

Konsep penggambaran ideal kehidupan manusia humanis, yang di sana dapat kita temukan kepedulian sosial, untuk ikut merasakan penderitaan orang lain. Jelas, konsep ini berbeda jauh dari individualitas yang ditawarkan kehidupan egoisme sistem nilai yang diukur dari segi keuntungan materi. Skematisasi masyarakat humanis adalah masyarakat yang lebih mengedepankan nilai humanisme sebagai manusia untuk saling tolong menolong tanpa memperhitungkan keuntungan material. Pun, masyarakat humanis tidak akan mempermasalahkan aspek keuntungan materi itu. Tujuan terbesar yaitu demi terciptanya masyarakat sosialis yang mana, kepentingan seluruh umat manusia lebih utama daripada kepentingan pribadi. Baca lebih lanjut