Selayang Pandang “Sastra Propaganda”

Selayang Pandang “Sastra Propaganda”
Oleh M.D. Atmaja

Sastra, sebagai karya seni bermediumkan bahasa memiliki status kelembagaan tersendiri yang membuat keberadaannya mencapai kemandirian sehingga dapat berperan penting dalam proses pembangunan mentalitas bangsa. Sastra sebagai bagian dari seni yang mengekpresikan kehidupan manusia (Fananie, 2000: 132). Kehadiran sastra sebagai bagian dari ekspresi masyarakat, dengan demikian kita dapat menyaksikan kondisi dari masyarakat tersebut melalui karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan, yang dengan sengaja merenungkan kemudian memanifestasikan fenomena kehidupan dalam kelembagaan karya.Membicarakan sastra dengan secara tidak langsung akan membicarakan berbagai fenomena yang ada di dalam masyarakat, oleh karena itu, pembicaraan sastra akan terarah pada kehidupan realitas. Membicarakan sastra sama halnya dengan membicarakan manusia dan masyarakat; tentang manusia perseorangan, manusia dalam kelompok, manusia dalam masyarakat yang luas dan tentang masyarakat itu sendiri (Lubis, 1997: 4). Kondisi kehidupan realitas mengenai hubungan antara individu (sebagai anggota masyarakat) dan masyarakat tercermin di dalam karya sastra (Saini, 1993: 43).

Sastra sebagai lembaga sosial yang memuat gambaran kehidupan realitas manusia, sehingga karya sastra dapat digunakan sebagai media penyebaran akan suatu gaya hidup (baca: kebudayaan). Proses penyebaran yang dapat memuat isi sebagai karya bertendens untuk melakukan hegemoni maupun untuk menggerakkan sesuatu. Sastra membangun dunianya sendiri melalui bahasa yang memberikan tempat bagi setiap tendensi yang dimuatkan sastrawan.

Keberadaan yang menggambarkan kehidupan aktivitas manusia dalam masyarakatnya dan kemudian menyampaikan dengan cara yang lain. Meskipun sastra memotret gambaran manusia di dalam masyarakat, menurut George Lukcas, sastra berbeda dengan sejarah sebab sastra sebagai media penyampaian pesan (tendensi) yang memiliki nilai keuniversalan dan lebih mengandung nilai falsafah ketimbang sejarah, karena sastra tidak mendokumenkan sejarah dengan begitu saja.

Kelembagaan sastra dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal oleh sastrawan, salah satunya sebagai media hegemoni masyarakat. Bentuk dari kesusastraan hegemonik merupakan kesusastraan yang keberadaannya mendominasi berbagai aspek kehidupan manusia yang bersangkutan dengan sastra. Proses hegemoni dapat dilakukan oleh kekuasaan yang juga menguasai kesusastraan, yang kemudian memuat nilai (pandangan) politik yang sesuai dengan pemerintah atau mendukung kerja pemerintahan yang diajarkan di lembaga pengajaran (sekolah). Sastra yang ditujukan sebagai kegiatan hegemoni biasanya diajarkan kepada mereka, para generasi muda.

Cara seperti ini yang menurut Gramsci (Kurniawan, 2002: xiv) sebagai cara yang dilakukan oleh kelas dominan atau berkuasa untuk menghegemoni rakyatnya. Kegiatan hegemoni dapat ditujukan untuk mempertahankan kekuasaan, atau lebih jauh lagi sebagai sarana pembentuk kebudayaan dan tradisi masyarakat. Sastra hegemoni juga dapat digunakan sebagai media propaganda untuk menjaga stabilitas nasional dan politik suatu negara.

Selain proses hegemoni, sastra juga dapat ditempatkan sebagai media propaganda untuk mewujudkan perlawanan dengan tujuan mencapai tatanan sosial tertentu. Seperti yang ada di dalam paradigma realisme-sosialis yang memeiliki motif, bahwa sastra sebagai alat perjuangan kelas. Motif yang lebih dikenal dengan gerakan turun ke bawah (turba). Yaitu gerakan untuk kembali menyimak sejarah kehidupan manusia (Pramoedya dalam Kurniawan, 2002: 7. Realisme sosialis memiliki dasar filsafat Marxis yang berpandangan secara materialisme-dialektika-historis (MDH), yang bersifat filsafat normatif dengan ide-ide eksplisit mengenai permasalahan epistemologi (Fokkema dan Kunne-Ibsch, 1998: 102).

Ciri dari sastra realisme-sosialis (sastra marxis) yaitu tidak memisahkan unsur-unsur yang ada di dalam sastra, karena itu memandang karya sebagai kesatuan yang menyeluruh (holistik) dengan mengkaji karya sastra dalam hubungannya dengan masyarakat, perkembangan sejarah, dan kondisi materialisme masyarakat. Karena itu realisme-sosialis mempropagandakan mengenai penggambaran kenyataan kongkret dan benar secara historis dalam perkembangan mencapai revolusi.

Pramoedya Ananta Toer (2003: 22) sebagai seorang realisme sosialis Indonesia, memberikan pendapatnya bahwa, realisme-sosialis mencakup persoalan taktik dan strategi, sekalipun di bidang sastra, untuk melawan apa yang namanya humanisme-borjuis dan untuk memenangkan humanisme-proletar. Dalam pandangan realisme sosialis, sastra harus mengabdi pada kepentingan rakyat dan perjuangan menuju revolusi (perubahan), sastra sebagai media propaganda untuk mencapai kemenangan rakyat (proletar).

Akantetapi, kita perlu mengingat kalau “semua sastra adalah propaganda, [akantetapi] tidak setiap propaganda adalah sastra” (Lu Hsun dalam Kurniawan, 2002: 65). Sastra yang berpropaganda adalah sastra yang dikerjakan dengan sadar untuk mengabdi pada kepentingan tertentu, entah itu kepentingan individu (sastrawan itu sendiri atau orang lain) atau kepentingan kolektif, seperti yang sastra yang dimanifestasikan oleh sastrawan Lekra.

Studio SDS Fictionbooks, 19 Maret 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s